Pewarisan Tradisional di Yogyakarta

Pandangan Baru tentang Sistem Pewarisan Tradisional di Yogyakarta

Membicarakan warisan pada sebagian orang adalah hal yang sangat sensitif. Harta warisan dapat dibagi saat saat pemiliknya masih hidup, maupun sudah meninggal. Pembagian harus “adil” agar tidak menimbulkan percekcokan, gugat-menggugat, bahkan putusnya persaudaraan.

Di Indonesia dikenal adanya tiga cara pembagian warisan yaitu menurut hukum adat masing-masing daerah, hukum negara dan hukum agama. Selain itu ada yang berdasarkan musyawarah, atau berdasarkan kombinasi. Dalam prakteknya hukum waris sering mengalami perubahan. Penyebabnya antara lain perubahan atau perkembangan sosial, pengaruh agama dan kian eratnya ikatan keluarga yang diikuti kian longgarnya ikatan klan/suku.

Bagi masyarakat Yogyakarta warisan dan pembagian warisan adalah hal yang penting. Warisan dapat dibagi saat pemiliknya masih hidup, secepat mungkin setelah pemiliknya meninggal atau menunggu setelah 1000 hari/sewu dina atau bahkan lebih. Semua itu tergantung kesepakatan dan juga mungkin biaya. Pembagian warisan sebaiknya memakai saksi dan catatan tertulis untuk kemudian disahkan sebagai bukti telah perubahan kepemilikan.

Buku ini membahas tentang sikap dan pendapat generasi muda (diambil dari pandangan siswa beberapa sekolah di Yogyakarta) tentang sistem pewarisan di Yogyakarta. Ada yang berpendapat sebaiknya memakai hukum agama Islam (pendapat yang wajar karena sebagian besar responden beragama Islam), ada pula yang berpendapat menurut hukum adat atau hukum negara. Yang menarik adalah ada yang berpendapat bahwa pembagian 2 bagian untuk laki-laki dan 1 bagian untuk perempuan ‘kurang’ adil di zaman seperti sekarang ini. Saat ini (secara ekonomi) tidak hanya laki-laki yang berperan, wanita juga ikut berperan. Ketika wanita tak berdaya secara ekonomi (misal suami sakit/meninggal) saudara laki-laki juga belum tentu dapat membantu, sehingga mau tak mau harus berusaha mandiri.

Mereka juga berpendapat, tanah adalah harta warisan yang paling berharga baru disusul barang-barang lain seperti uang, perhiasan, kendaraan, hewan piaraan dan yang lain. Untuk barang-barang yang tidak dapat dibagi, misalnya pusaka orangtua akan mewariskannya pada mereka  yang dianggap ‘kuat’. Dalam hal ini anak yang lain/ahli waris lain harus ikhlas ‘lega lila’. Kalau benda pusaka tersebut secara material berharga mahal, untuk ahli waris lain akan diganti uang atau benda lain yang nilainya sepadan.

Judul: Pengetahuan, Sikap, Keyakinan, dan Perilaku di Kalangan Generasi Muda Berkenaan dengan Sistem Pewarisan Tradisional di Kota Yogyakarta
Penyusun: Noor Sulistyo Budi, SH
Penerbit: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 2003, Yogyakarta
Bahasa: Indonersia
Jumlah halaman: xiii + 160

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *