Tradisi Nyanggring

Ritual Nyanggring Di Desa Tlemang Kecamatan Nglimbang Kabupaten Lamongan

Nyanggring adalah bagian dari ritual mendhak yang dilakukan oleh masayarakat Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Mendhak memiliki arti melaksanakan selamatan yang dilakukan setiap tahun untuk memperingati orang yang telah meninggal.

Namun mendhak di sini mempunyai arti yang berbeda, yaitu memperingati atau perayaan atas peristiwa penting yang berhubungan dengan seorang tokoh masyarakat bernama Ki Buyut Terik atau Kaki Terik. Sedang nyanggring mempunyai arti memasak sayur sanggring.

Masakan sanggring berbahan dasar ayam tanpa tulang dengan kuah santan kelapa dan bumbu-bumbu tertentu (bawang putih, bawang merah, gula merah/jawa, terasi, kunir, daun salam, lengkuas, cabai, daun jeruk purut bahkan telur ayam yang dipecahkan di atas masakan kemudian diaduk).

Prosesi mendhak berlangsung selama empat hari, dimulai pada tanggal 24 sampai tanggal 27 Jumadilawal. Rangkaian ritual mendhak ada beberapa tahap. Pertama dhudhuk sendhang atau membersihkan mata air yang dilaksanakan pada tanggal 24 Jumadilawal. Di Desa Tlemang ada dua sumber air utama yaitu sendhang lanang dan sendhang wedok.  

Kedua, membersihkan makam Ki Buyut Terik, mengganti mori pada jirat makam, memperbaiki dan mengganti atap cungkup (atap terbuat dari ilalang) yang dilaksanakan pada tanggal 25 Jumadilawal. Dua kegiatan ini hanya dilakukan oleh laki-laki, perempuan tidak dilibatkan.

Ketiga, persiapan nyanggring yang dilaksanakan pada tanggal 26 Jumadilawal.  Persiapan ini berupa pemotongan hewan yaitu ayam dan kambing, yang diiringi pertunjukan wayang krucil. Aktifitas ini dihentikan pada pukul 16.00. Kemudian dilanjutkan pukul 21.00 sampai pagi.

Prosesi nyanggring diawali dengan cethik geni atau menyalakan api. Dalam kegiatan ini perempuan baru terlibat, yaitu memasak daging kambing.  Keempat, upacara nyanggring yang dilaksanakan pada tanggal 27 Jumadilawal.

Pada pukul 08.00, pengolahan sayur sanggring dimulai. Pengolahan ini juga diiringi pertunjukan wayang krucil dan tidak boleh berhenti sebelum sanggring matang. Pemasaknya khusus laki-laki dan tidak boleh dicicipi.

Masyarakat mempercayai bahwa rasa pada masakan sanggring adalah pertanda apa yang akan terjadi. Bila asin diperkirakan akan terjadi paceklik tetapi bila rasanya manis akan datang masa kemakmuran (panen berlimpah).

Setelah didoakan sanggring dibagi-bagikan untuk  dimakan semua orang yang hadir. Selesai makan, semua masyarakat baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak berziarah ke makam Ki Buyut Terik. Konon, sayur sanggring mempunyai kaitan erat dengan Ki Buyut Terik.

Nyanggring adalah salah satu kekayaan budaya yang mempunyai nilai-nilai positif. Dalam ritual sanggring terdapat berbagai tatanan sosial seperti kerja sama, pelestarian lingkungan/konservasi alam, semangat kerja keras dan kejujuran. Apakah tradisi ini masih bertahan atau tidak, tentunya tergantung masyarakat pendukungnya dan peran serta pemerintah.

Judul: Revitalisasi Ritual Adat dalam Rangka Ketahanan Budaya Lokal. Kasus Ritual Nyanggring di Desa Tlemang Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan
Penulis: Agus Indiyanto, dkk
Penerbit: FIB UGM + BPNB, 2012, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xi + 111

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *