Surat Emas Raja-raja

Buku yang Memaparkan tentang Surat Emas Para Raja

Selama lebih dari 400 tahun, surat yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan huruf Jawi (huruf Arab-Persia) menjadi sarana komunikasi bagi raja-raja di Kepulauan Nusantara, pembesar dan pedagang dari mancanegara. Meskipun surat-surat tersebut berasal dari tempat yang jauh jaraknya antara satu dan yang lain, tidak banyak perbedaan yang terdapat pada bahasa Melayu yang digunakan. Misalnya surat dari daerah Kepulauan Maluku dengan wilayah Minangkabau, Sumatera.

Yang paling mengesankan dari surat-surat tersebut adalah unsur seninya. Surat-surat ditulis dan dihiasi dengan tingkat keterampilan yang tinggi dan sangat teliti, sesuai tata cara pada waktu itu. Bahkan ada yang ditaburi bubuk emas. Hal ini demi mencerminkan martabat dan derajat sang pengirim surat.

Selain kertas, media untuk menulis surat menggunakan bambu, kulit binatang, lontar atau rontal, dan daun nipah. Surat dari kerajaan biasanya bersampul atau dibungkus kain sutera atau kain jenis lain yang bagus (dan mahal) dengan warna-warna tertentu.

Cap kerajaan adalah salah satu bagian penting dari sebuah surat. Setiap kerajaan mempunyai cap dengan ciri khas tersendiri. Cap kerajaan dapat dikatakan sebagai pengganti “cap jempol” atau “tanda tangan” penguasa.

Surat Emas Raja-raja

Surat-surat tersebut ada yang dikirim jarak dekat tetapi ada juga yang jarak jauh, bahkan sampai negara-negara di benua Eropa seperti Inggris. Isi surat-surat raja tersebut dapat dijadikan salah satu sumber primer untuk penelitian sejarah. Melalui bahan dan isi surat dapat diketahui tentang situasi ekonomi, politik, kesenian, perkembangan bahasa dan ejaan Melayu.

Surat-surat juga ditulis dalam aksara dan bahasa masing-masing daerah, di samping ada pula yang mendapat pengaruh dari daerah atau negara lain. Misalnya aksara Arab berbahasa Aceh, Sunda, Jawa atau Madura, aksara dan bahasa Batak, aksara dan bahasa Jawa, aksara dan bahasa Bali, aksara dan bahasa Bugis, aksara Kaganga bahasa Rejang, Lampung dan lain-lain.

Selain surat yang dikirimkan ke pihak lain ada pula naskah kuno yang ditulis dan dipergunakan untuk keperluan sendiri. Dalam naskah kuno tampak gagasan, pendapat, pengertian, perasaan, pengalaman jiwa dan pandangan hidup yang meliputi berbagai aspek kehidupan manusia.

Oleh karena itu isi naskah juga beragam seperti dongeng, hikayat, cerita rakyat, babad, silsilah, sejarah, surat-surat perjanjian, tatacara, upacara, hukum adat, undang-undang, kebahasaan (daftar kata, kamus, tata bahasa), astrologi, religi, obat-obatan, permainan anak, ilmu bangunan dan lain-lain. Terdapat  pula naskah asing seperti naskah Arab, Birma, Kamboja, Siam, Belanda, Jerman, Jepang dan Cina.

Selain membahas tentang surat dan naskah kuno, buku ini juga membahas tentang perangko-perangko yang pernah dipergunakan di Indonesia, sejak masa VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) sampai Indonesia merdeka. Juga seri yang diterbitkan seperti flora fauna, pahlawan, kebudayaan, kesehatan, pembangunan, kemanusiaan dan lain-lain.

Judul: Pameran Surat Emas Raja-raja dan Naskah-naskah Nusantara
Penulis:
Penerbit: Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi, 1991, Jakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: 98

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *