Sistem Pengetahuan Tradisional dalam Bidang Mata Pencaharian di Daerah Istimewa Yogyakarta

Bagi Masyarakat Desa Jawa, Padi adalah Jelmaan Dewi Sri karena Itu Harus Diperlakukan dengan Hormat

Bekerja adalah salah satu hal yang penting dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Ada bermacam-macam jenis pekerjaan, salah satunya bertani. Buku ini membahas tentang pertanian pada masyarakat Desa Argomulya, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Kondisi alam Desa Argomulya yang berada di lereng Gunung Merapi memang subur dan air juga melimpah. Kondisi yang sangat mendukung untuk pertanian. Dalam mengolah lahan masyarakat desa itu berusaha sebaik dan semaksimal mungkin.

Masyarakat mempunyai kearifan-kearifan lokal tertentu yang menjadi pedoman seperti tanda-tanda alam. Tanda-tanda alam inilah yang kemudian dijadikan pedoman dalam perhitungan pranata mangsa. Pranata mangsa adalah aturan mangsa atau musim yang dijadikan pedoman saat bercocok tanam, terutama menanam padi. Pranata mangsa dihitung secara teliti dan rumit (njlimet- bahasa Jawa).

Kearifan lokal lain adalah pengetahuan tentang flora/tumbuhan dan fauna/binatang. Ada suatu mitos bahwa padi adalah ‘jelmaan’ Dewi Sri. Oleh karena itu, selain dengan perhitungan pranata managsa, masyarakat Desa Argomulya memperlakukan padi dengan hormat dan hati-hati. Mulai dari membuat benih, mempersiapkan lahan, menanam, merawat, membasmi hama (baik tumbuhan atau gulma maupun binatang), memanen, menjadikan beras, mengolah dan saat memakannya. Perlakuan yang kasar dianggap dapat menyakiti Dewi Sri, dan saat berikutnya hasilnya tidak akan maksimal.

Selain bertani masyarakat Desa Argomulya juga memelihara binatang ternak semisal ayam, sapi, kambing, bebek dan ikan. Selain untuk konsumsi sendiri, juga merupakan tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual apabila memerlukan uang. Tabungan lain adalah tanaman keras seperti jati, nangka dan kelapa.

Sebagai ucapan terima kasih dan juga permohonan, masyarakat Desa Argomulya membuat suatu sesaji. Sesaji tersebut berupa makanan/minuman, bunga maupun daun yang mempunyai makna simbolik. Misalnya nasi tumpeng adalah lambang hubungan manusia dengan Sang Khalik.

Perkembangan zaman membuat beberapa hal menjadi berkurang bahkan hilang. Misal memanen padi sekarang tidak lagi memakai ani-ani, tetapi dipotong dengan sabit, pemakaian pupuk buatan pabrik yang lebih banyak, membasmi hama dengan pestisida dan insektisida, tradisi sesaji yang mulai hilang dan lain-lain. Semua memang ada plus minusnya, kelebihan dan kekurangannya.

Judul: Sistem Pengetahuan Tradisional dalam Bidang Mata Pencaharian di Daerah Istimewa Yogyakarta
Penulis: Drs. H.J. Wibowo, dkk
Penerbit: Depdikbud, 1995/1996, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xiii + 134

Koleksi Perpustakaan Tembi Rumah Budaya

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *