Komunitas Kampung Pitu

Komunitas Kampung Pitu, yang Hanya Terdiri dari Tujuh Kepala Keluaga

Komunitas Kampung Pitu terletak di Dusun Nglanggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Secara geografis wilayahnya berada di puncak gunung api purba. Secara administrasi mereka yang diam di Kampung Pitu merupakan satu rukun tetangga (RT).

Asal mula Kampung Pitu banyak versi. Salah satunya berkaitan dengan pusaka yang memiliki kekuatan gaib yang menempel di Pohon Kinah Gadung Wulung. Keraton Yogyakarta kemudian membuat sayembara, siapa yang dapat mengambil pusaka itu akan diberi imbalan berupa tanah.

Konon ceritanya hanya Eyang Iro Kromo yang berhasil mengambil. Setelah eyang Iro Kromo tinggal di tanah hadiah tersebut, banyak orang datang dan ingin ikut menetap. Ternyata hanya tujuh orang yang sanggup bertahan dan tinggal di sana.

Dari tujuh orang tersebut hanya dua orang yang menikah dan melanjutkan keturunan. Keturunan kedua orang tersebut, apabila ingin tetap bertempat tinggal di sana (sekalipun sudah menikah) harus menaati adat yang berlaku.

Adat tersebut adalah jumlah kepala keluarga (KK) hanya tujuh orang. Jadi sekalipun sudah menikah dan punya anak tidak dapat memiliki KK sendiri. Jika ingin memiliki KK sendiri harus menunggu jika ada KK yang pindah, meninggal dunia atau mengundurkan diri.

Warga komunitas Kampung Pitu mempunyai mitos atau kepercayaan apabila aturan tujuh KK tersebut dilanggar akan terjadi hal-hal yang buruk. Seperti menderita sakit, pertengkaran dalam keluarga  atau hal-hal lain yang menyebabkan ingin pindah tempat tinggal, bahkan sampai meninggal dunia. Saat buku ini diterbitkan KK di Kampung Pitu sampai pada generasi kelima dihitung dari generasi pertama pendiri Kampung Pitu.

Berbagai tradisi turun temurun dilaksanakan dan dilestarikan warga Kampung Pitu. Mereka melestarikan nilai-nilai budaya dan keutuhan warga Kampung Pitu melalui pelaksanaan berbagai ritual, serta memegang teguh pantangan/wewaler. Sumbernya adalah mitos awal mula pendiri Kampung Pitu membuka pemukiman di puncak gunung api purba Nglanggeran. Sistem sosial dipelihara dan dipertahankan melalui aktivitas saling membantu dalam berbagai kegiatan sosial. Misalnya rasulan, tradisi upacara daur hidup manusia (lahir, menikah kemudian meninggal) dan lain-lain.

Berbagai ritual keagamaan/religi masyarakat Kampung Pitu sangat berperan dalam meneguhkan kepercayaan bahwa Kampung Pitu hanya boleh dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Pembatasan tujuh KK ini sebenarnya secara rasional dapat dikaitkan dengan sumber daya alam yang ada. Dengan lingkungan yang ‘kurang’ subur dan akses yang terbatas (di waktu dulu), pembatasan tujuh KK juga mengakibatkan pertambahan penduduk yang lebih lambat. Yang menginginkan KK sendiri bila tidak sabar menunggu, mau tidak mau harus pindah lokasi. Dengan demikian sumber daya alam yang ada masih dapat mencukupi, bahkan bisa jadi masih berlebih.

Judul: Komunitas Kampung Pitu Gunung Kidul
Penulis: Bambang H. Suta Purwana, Theresiana Ani Larasati, Ambar Adrianto
Penerbit: BPNB, 2019, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: xii + 129

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *