Kerajinan Tradisional

Kisah Tentang Bisnis Kerajinan Tradisional di Tiga Desa yang Berbeda

Bekerja (mencari nafkah) adalah salah satu cara untuk  hidup dan menunjukkan eksistensi diri. Ada berbagi macam jenis pekerjaan, salah satunya adalah kerajinan. Jenis kerajinan pun bermacam-macam, mulai dari benda yang digunakan untuk keperluan sehari-hari, sampai benda yang digunakan untuk keindahan/aksesori.

Di setiap daerah di Indonesia terdapat berbagai usaha kerajinan dengan ciri khasnya masing-masing. Buku ini membahas tiga usaha kerajinan. Yaitu kerajinan kuningan di Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, kerajinan ukir kayu di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kebupaten Sumenep, Jawa Timur, dan kerajinan manik-manik di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto.

Ketiga jenis kerajinan tersebut masih dikelola secara tradisional, lebih bersifat kekeluargaan daripada secara profesional. Hubungan antara pekerja dengan majikan atau pemilik usaha akrab hampir tak ada jarak, pekerja dianggap seperti keluarga sendiri, toleransi ketika terjadi ‘pelanggaran’ (jam kerja, istirahat dan lain-lain).

Pekerja selain mendapatkan makan dan  minum (juga cemilan), untuk pekerja laki-laki juga mendapatkan rokok. Setahun sekali di hari raya Idul Fitri mereka mendapatkan tunjangan hari raya.

Kerajinan tradisional ini ada tiga skala yaitu kecil, menengah dan besar. Kerajinan berskala kecil atau menengah (dengan pekerja lebih sedikit) sangat produktif ketika pesanan banyak atau saat  ramai. Saat sepi biasanya tidak berproduksi. Mereka juga tidak membuat stok barang. Berbeda dengan pengrajin skala besar yang menang permodalan dan juga relasi. Mereka tetap melakukan produksi dan berani stok barang.

Untuk pemasaran, selain memenuhi kebutuhan lokal, juga daerah lain bahkan beberapa diekspor atau dibeli langsung oleh pihak luar. Kendala-kendala yang dihadapi umumnya sama yaitu ketersediaan bahan baku dan harga, tenaga kerja ahli dan pemasaran. Harga bahan yang semakin naik, persaingan tidak sehat (misalnya menjatuhkan pengrajin lain atau membajak tenaga kerja).

Yang juga dirasa berat adalah biaya makan dan rokok.  Untuk mengantisipasi biaya produksi beberapa pengrajin melakukan sistem borongan, makan+minum+rokok diganti uang. Untuk tenaga ahli diberi fasilitas-fasilitas tertentu agar tidak pindah majikan dan lain-lain.

Permintaan terhadap hasil kerajinan ini memang naik turun, pernah pula mengalami masa kejayaan. Untuk mempertahankan permintaan atau kalau dapat menaikkan permintaan, berbagai inovasi dilakukan. Antara lain variasi produksi misalnya membuat suvenir, membuat barang yang lebih berdaya guna atau multifungsi dan lain-lain.

Judul: Kerajinan Tradisional
Penulis: Isni Herawati, Taryati, Emiliana Sadilah
Pengantar: Dr. Andri Kurniawan, M.Si
Penerbit: BPNB, 2013, Yogyakarta
Bahasa: Indonesia
Jumlah halaman: x + 168

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *