Tedy Rendra membaca puisi di Tembi

In Memoriam Tedy Rendra, Puisi dan Tembi

Panggilannya Tedy, sering di belakang namanya ditambahi Rendra, sehingga dikenal dengan nama Tedy Rendra. Nama sebenarnya Theodorus Setya Nugraha, anak sulung dari WS Rendra.

Kabar duka mengenai Tedy beredar melalui Facebook, Kamis pagi, 30 Juli 2020, menyampaikan bahwa dia telah meninggal. Tentu, saya terkejut, karena tak pernah mendengar kabar perihal sakitnya, dan hari-hari belakangan, Tedy sering menulis status di Facebook-nya.

Sejak masih remaja saya sudah bersahabat dengan Tedy. Apalagi kampung tempat dia tinggal dan kampung saya tidak terlalu jauh. Pertengahan dekade 1970-an saya sering melihat latihan Bengkel Teater di Ketanggungan, dan tentu saja sambil bertemu Tedy. Sudah puluhan tahun, setidaknya ketika sama-sama sudah ‘selesai’ menempuh sekolah SMA, dan masing-masing mempunyai jalan sendiri-sendiri: tidak saling bertemu.

Pertengahan tahun 2018 Tedy menyapa saya melalui WA, dan membuat saya kaget. Karena tiba-tiba dia nongol dan tahu nomer  WA saya. Dari foto profilnya saya pangling, tetapi dia menuliskan namanya.

“Piye kabarmu Ons, aku Tedy,” begitu dia menyapa.

Sejak saat itu saya sering berkomunikasi dengan Tedy melalui WA, salah satunya untuk mencari kemungkinan dia pentas di Tembi, dalam Sastra Bulan Purnama yang saya gelar setiap bulan.

“Aku diminta Nuranto (pemilik Tembi Rumah Budaya) untuk mengisi Sastra Bulan Purnama membacakan puisi-puisi papaku,” kata Tedy.

Nuranto, Koko, Tedy dan Landung Simatupang di Tembi

Nuranto, Koko, Tedy dan Landung Simatupang di Tembi

Tentu, saya merespon dengan senang hati keinginan Tedy untuk membacakan puisi-puisi Rendra. Karena rencana itu, saya menjadi sering berkomunikasi dengan Tedy mematangkan apa yang sudah direncanakan.

Ketika Tedy sedang di Yogya, dia mampir ke Tembi, selain bertemu Nuranto, sekaligus membicarakan rencana mengisi Sastra Bulan Purnama. Tedy dan Nuranto sudah saling kenal lama. Keduanya teman sekolah di SMA De Britto.

“Selama ini, kamu paling suka membaca puisi berjudul apa dari karya Rendra?” tanyaku.

Dia tidak menjawab, ia hanya meminta buku-buku puisi karya Rendra. Karena rupanya, Tedy tidak memiliki buku-buku puisi Rendra, yang diterbitkan oleh beberapa penerbit yang berbeda.

“Ini Empat Kumpulan Sajak karya papamu,” kataku sambil memberikan buku tersebut.

Dari pertemuan di Tembi, dan dilanjutkan pembicaraan melalui WA, rencana pembacaan puisi Rendra terus dimatangkan, dan akhirnya disepakati, bahwa anak-anak Rendra akan membacakan puisi bapaknya.

Kebetulan, Anak Tedy, yang tinggal di Inggris sedang berlibur ke Yogya dan ingin berjumpa dengan bapaknya, sehingga sekalian diikutkan membaca karya Rendra.

Tedy bersama adik-adikya dan anaknya di Tembi

Tedy bersama adik-adikya dan anaknya di Tembi

Tedy menghubungi adik-adiknya, Clara Sinta, Rachel, Naomi. Tidak semua adiknya ikut membaca puisi. Dua anak Rendra dari Sunarti dan dua anak Rendra dari Sitoresmi, kiranya sudah mewakili keluarga Rendra. Ada pembaca lain yang ditampilkan, ialah Landung Simatupang.

Pentas digelar Oktober 2019 di Tembi dalam acara Sastra Bulan Purnama. Ketika Tedy tampil membacakan puisi, ia menikmati sekali. Terlihat bahwa Tedy mempunyai kerinduan untuk pentas. Bahkan Tedy, mengaku tidak pernah membacakan puisi-puisi karya Rendra.

Selama ini, puisi Rendra dibacakan oleh orang lain, dan anak-anaknya malah jarang membacakannya, sehingga ketika Tedy dan adik-adiknya diminta membaca puisi karya bapaknya, mereka seperti bertemu kembali dengan papanya yang sudah pergi.

Kerinduan mereka terhadap bapaknya seperti terobati melalui puisi-puisinya. Bahkan, bukan hanya kerinduan terhadap papanya, tetapi kerinduan terhadap adik-adiknya dan saudara yang lain terobati melalui puisi.

Selain itu, anak-anak Bengkel Teater yang tinggal di Yogya, dan kenal dengan semua anak-anak Rendra, banyak yang hadir, dan semua saling meluapkan rasa kangennya.

Jadi, pertemuan dengan Tedy, tidak hanya saya, juga teman-teman lainnya, dipertemukan kembali melalui puisi di Tembi. Setelah pembacaan puisi Rendra, memang ada rencana lain, bahwa Tedy memiliki rencana mementaskan naskah Rendra, mungkin Kereta Kencana, atau naskah lain yang, kata Tedy, akan dipelajari dulu. Karena dia akan sering ke Yogya, sehingga rencana itu, lagi-lagi, kata Tedy, bisa dibicarakan di Yogya untuk dimatangkan.

Rupanya, takdir mempunyai kehendak lain. Saat Tedy sedang di Citayam, Depok, Jawa Barat, dia dipanggil Tuhan, dan di sana dia akan bertemu Rendra, papanya. Selamat jalan Tedy. (*)

Category
Tags

One response

  1. Saya bersama beberapa teman dan anak saya Moses Badai sejak bulan Syawal 2020 lalu berencNa membuat sebuaj tayangan video dengan talent Tedy. Ada beberapa epispde yang sudah kami rancang. Saya tertarik dengan rencana produksi video content ini karena tulisan Tedy di medsos dan wa group sangat menarik dan berbuga bagi masyarakat umum. Storyboard, storyline, dan rencana produksi sudah kami siapkan. Bahkan anakku sudah membuat Blue Book nya. Tinggal.menunggu Tedy datang ke Jogja. Sehari sebelum Tedy berpulang, saya sempat kontak dia melalui wa call dan membicarakan rencana ini. Dia memberi banyak masukan. Daaaaan…kami menunggu kedatangannya untuk mulai betproduksi..,
    Kabar kemarin pagi mengejutkan saya…Tedy berpulang ke rumah kedamaian. Saya sedih…tetapi produksi video tetap akan kami teruskan dengan storyline yang berbeda…. Selamat Jalan Tedy…. We love you…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *