Sastra Bulan Purnama

Rembulan dan Puisi di Sastra Bulan Purnama

Sudah lebih dari satu tahun komunitas Sastra Bulan Purnama, yang biasanya datang dari berbagai kota, saling menjauh. Bukan karena ada perseteruan, tetapi karena kondisi pandemi covid-19 memaksa untuk tidak saling berkumpul membuat kerumunan. Karena selama ini, Sastra Bulan Purnama selalu membuat kerumunan, dan tak ada jaga jarak, saling salam, saling  peluk cium untuk meneguhkan persahabatan, sekaligus menikmati makan bersama. Sendau gurau selalu menyertai sampai malam menunjuk pukul 23.00 dan rembulan bundar di langit biru.

Sastra Bulan Purnama yang ditayang secara live di Youtube, Sabtu 24 Juli 2021 pukul 19.30 melalui chanel Sastra Bulan Purnama ditemani rembulan yang jernih di langit biru. Rita Retnowulan, tinggal di Jakarta, menyempatkan memotret rembulan di sela-sela mengikuti live Sastra Bulan Purnama, yang diisi peluncuran buku puisi karya Yuliani Kumudaswari berjudul ‘Kembang Belukar’.

Rita Ratnawulan ikut membaca dua puisi karya Yuliani, bersama sejumlah pembaca lainnya, di antaranya Ristia Herdiana, tinggal di Jakarta; Nunung Rita, Chacha Baninu, keduanya tinggal di Yogya. Masing-masing pembaca mengambil lokasi yang berbeda dalam membaca puisi. Ristia membaca di rumahnya, Nunung Rieta di Tembi Rumah Budaya, Chacha Baninu di kamar tidurnya dan di ruang pamer, dengan latar belakang lukisan.

Rita membaca puisi di taman, yang penuh pepohonan dan bunga, sehingga terlihat suasananya sejuk. Yanti S. Sastro, tinggal di Semarang, mengambil lokasi di rumahnya, Yantoro, Eko Winardi, Tosa Santosa dan Sashmyta Wulandari lokasi membaca puisi di Tembi Rumah Budaya mengambil titik yang berbeda-beda. Tedy Kusairi membaca puisi sambil tiduran di rumahnya.  Ninuk Retno Raras mengambil lokasi di rumahnya. Dyah dan Ismael Daeng membaca puisi di ruang tamu rumahnya.

Aneka lokasi tempat membaca puisi memperkaya pertunjukan Sastra Bulan Purnama, yang selama pandemi covid-19, dan telah berlangsung lebih dari 1 tahum, diselenggarakan secara live, sehingga masing-masing penikmat tidak hadir dan berkerumun. Dari rumah masing-masing bisa saling bersapa.

Dalam waktu 1,5 jam sejak tayang, Sastra Bulan Purnama edisi 118, Poetry Reading seri 18, telah dilihat 159 orang. Padahal, selama ini ketika Sastra Bulan Purnama diselenggarakan secara offlline, dengan mengambil di ruang terbuka seperti di Amphytheater atau di pendapa Tembi Rumah Budaya dihadiri setidaknya 100 orang, atau kurang. Pernah pula 100 orang lebih menghadiri pertunjukan Sastra Bulan Purnama.

Tetapi melalui format live di Youtube dan dengan sendirinya sudah terdokumentasi, sehingga yang tidak melihat saat live bisa melihat di hari berikutnya, atau beberapa jam setelah live, pengunjung Sastra Bulan Purnama,  biasa disingkat SBP dilihat lebih lebih dari 150 orang. Ada satu seri Sastra Bulan Purnama dilihat lebih dari 600 orang, seperti Sastra Bulan Purnama 104, yang meluncurkan antologi puisi berjudul ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’.

Setiap penyair atau pembaca puisi yang diminta untuk tampil di Sastra Bulan Purnama selalu meluangkan waktu, dan mereka datang dari kota yang berbeda-beda, tidak hanya dari Yogya, bahkan ada juga yang tinggal di Australia. Rasanya, Sastra Bulan Purna telah menjadi milik bersama, sehingga bersama-sama merasa saling memiliki.

Setiap kali melihat publikasi poster yang di-uopload melalui Facebook, selalu ada respon yang menuliskan: “Kangen ketemu lagi, kangen di tembi, kangen bakmi’ dan lain-lain komentar.

Di sisi lain, ada terbersit kejenuhan melihat pertunjukan dari satu jarak tanpa ada interaksi fisik, terasa sekali kehangatannya tidak kental. Di tengah kondisi pandemi yang masih kuat, dan di tengah banyak orang yang seringkali tidak peduli, bahkan ada yang positip tetap masuk kerja, Sastra Bulan Purnama terus perlu mengambil jarak dalam kerumunan. Maka, pertunjukan live menjadi pilihan.  (*)

Category
Tags

No responses yet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *